“Knowledge is Power” pasti anda pernah mendengarkutipan terkenal dari Francis Bacon tersebut yang mengungkapkan pentingnya pendidikan bagi manusia. Sumber pokok kehidupan manusia adalah pengetahuan. Mengapa ? karena manusia dengan pengetahuannya mampu melakukan olah cipta sehingga bisa bertahan dalam masa yang terus maju dan berkembang. Dalam proses olah cipta tersebut, terlaksana berkat adanya sebuah aktivitas yang dinamakan Pendidikan.
Pendidikan adalah suatu proses mencapai suatu tujuan tertentu, atau dengan kata lain pendidikan adalah sebuah upaya melawan kebodohan. Olehnya itu hal ini diwajibkan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Karena pendidikan sangat menjamin untuk mencapai tujuan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” sebagai amanat UUD 1945 yang merupakan konsitusi negara Indonesia.
Jika kita lihat jauh kebelakang pendidikan yang kita kenal sekarang ini merupakan “adopsi” dari berbagai model Pendidikan di masa lalu. Informasi mengenai bagaimana model Pendidikan di masa prasejarah masih belum dapat terkonstruksi dengan sempurna, namun dapat diasumsikan “media pembelajaran” pada masa itu berkaitan dengan konteks sosial yang sederhana. Terutama yang berhubungan dengan adaptasi lingkungan dikelompok sosialnya.
Kini usia bangsa kita sudah mencapai 74 tahun. Di usia seperti ini seharusnya perubahan baik secara infrastruktur maupun sumber daya manusia (SDM) sudah merata diseluruh pelosok negeri. Tapi, toh, pada kenyataaannya bahwa pembangunan hanya berpusat pada satu titik, yakni pulau Jawa. Mutu pendidikan di pulau Jawa sudah sangat baik, ditunjang dengan kualitas pengajar yang baik pula, sarana prasarana yang memadai dan keterbukaan akses informasi. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak pelajar dan mahasiswa yang memilih menuntut ilmu disana.
Mengapa demikian ? Bukankah di Indonesia Timur dan wilayah-wilayah yang lain juga ada perguruan tinggi ? tentunya hal tersebut bukanlah dasar persoalan, tetapi hal ini umumnya berada pada masalah kualitas sarana dan motivasi untuk mencari yang terbaik. Lihatlah contoh konkretnya, perguruan tinggi negeri yang dicap Bonefide sebagian besar berada di pulau Jawa, bahkan hampir seluruhnya masuk dalam 10 besar Perguruan Tinggi Negeri Unggulan di Indonesia versi beberapa portal media.
Masih banyak daerah-daerah pelosok di Indonesia Timur dan wilayah-wilayah lainnya belum menerima pendidikan yang layak. Masalah pendidikan di seluruh wilayah Indonesia sangat terhambat oleh beberapa faktor, sehingga sulit untuk mewujudkan pelayanan pendidikan di daerah-daerah tertinggal terutama di Indonesia Timur. Selain sarana prasarana yang belum memadai, kualitas dari tenaga pengajar juga masih belum kompeten.
Kondisi pendidikan di Indonesia Timur juga sangat memprihatinkan, banyak anak-anak yang putus sekolah, dikarenakan kurangnya kesadaran tentang pentingnya Pendidikan. Selain itu ada juga yang putus sekolah karena terhambat oleh biaya pendidikan yang relative mahal. Berdasarkan hal tersebut maka tidak heran jika banyak anak di Indonesia Timur mengalami ketertinggalan pendidikan. Selain itu, di kawasan Indonesia Timur juga masih memiliki angka buta huruf yang tinggi. Provinsi dengan presentase tertinggi penduduk yang buta huruf berasal dari Provinsi di Indonesia Timur, yaitu Papua (35,47%), Maluku Utara (4,21%) dan masih banyaklagi(sumber:https//www.google.com/search?=www.bps.go.id.angkabutahurufdiindonesiatimur).
Di wilayah Maluku Utara, perkembangan pendidikan masih dapat dikatakan sangat memprihatinkan. Rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Maluku Utara masih sangat rendah. Selain masalah fasilitas dan SDM, penyebab utama lainnya adalah minimnya stimulasi yang diberikan kepada anak usia dini, disamping itu bantuan Pendidikan dari pemerintah belum juga dirasakan oleh masyarakat menengah kebawa tetapi yang menikmati bantuan pendidikan tersebut hanya orang-orang tertentu.
Pada dasarnya potensi anak-anak Indonesia Timur juga tidak kalah dengan anak-anak di Pulau Jawa, dengan mendapatkan akses yang lebih baik misalnya buku-buku yang berkualitas. Perkembangan pendidikan di Indonesia Timur butuh sentuhan dari pihak pemerintah yang merata, untuk itu kiranya pemerintah perlu bekerja lebih cermat dan kerja keras untuk meningkatkan mutu Pendidikan di Indonesia Timur. Meminjam pendapat Bang Rocky Gerung bahwa, “konstitusi memberi tugas kepada pemimpin tertinggi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi mencerdaskan kehidupan bangsa itu bukan tujuan bernegara tetapi tugas dari pada pemimpinnya. Jika tugas tersebut gagal maka harusnya dia bisa digulingkan karena dia melakukan kejahatan tertinggi dengan membuat seluruh anak bangsa gagal cerdas”.
“untuk menciptakan Indonesia maju, maka sangat perlu untuk terlebih dahulu memajukan masyarakatnya”, melalui jalur pendidikan yang merata sebagai konteks lain dalam pembangunan manusia.
Penulis : Dagles Kareng
Editor : Denis Tenga