GMKI : Gerakan Pelayanan (Oleh : Ketua Komisariat UMMU M.B 2019-2020)

“GMKI bukanlah sebuah organisasi yang hanya milik suatu kelompok, suku dan etnis. Tetapi GMKI adalah milik kita bersama yang mau bertanggung jawab untuk Bangsa dan Negara Indonesia”.

Dunia gerakan sudah bisa kita katakan tua usianya, dalilnya ialah karena adanya pembangunan gerakan-gerakan yang besar di dunia secara luas dan kerucutnya di Indonesia sendiri mampu bergerak dalam berbagai dialektika gerakan yang dibangun termasuk GMKI sendiri, namun mahkluk yang membuat gerakan itu sendiri belumlah bisa kita katakan tua atau bersifat dewasa dalam mengambil sikap dan tindakan nyata untuk kepentingan kita dengan Tuhan bahkan kita dengan sesama yang ada di cakrawala ini.

GMKI ialah organisasi pengkaderan, namun juga sebagai organisasi pelayanan. Yang dalam hal ini setiap kader seharusnya memilki kemampuan ataupun mempunyai nalar kritis sehingga dapat memaknai dan bertanggung jawab atas slogan ataupun kalimat yang sakral itu, yang menjadi bagian dari pada representasi nyata gerakan ini. Yang dapat direfleksikan terus menerus yang dalam situasi dan kondisi apapun hingga mampu mendapatkan dan menduduki posisi puncak sebuah gerakan yang revolusioner dan visioner. 

Sejatinya menjadi seorang kader yang bermutu tinggi dan besar, tidaklah menjadi sebuah tugas yang gampang ataupun mudah. Tetapi sulit ketika kita hanya mengandalkan  kemampuan, kekuatan yang kita kehendaki, secara personal yang hanya mengedepankan kekuatan manusia secara menyeluruh tanpa sedikit pun tidak mengikutsertakan Yesus Kristus sebagai pribadi yang empunya segalanya. Maka, kita juga tidak akan mendapatkan sebuah perjuangan pergerakan yang dituntun oleh pribadi yang Maha Esa, tetapi biarlah sebuah arah gerakan pelayanan kita tetap ada dalam tangan  Yesus Kristus sang kepala gerakan dan juga kepala atas segala yang ada yakni bumi dan seisinya.

Belajar pada pelayanan Yesus

Mari kita sama-sama belajar pada politik Yesus pada beberapa ribu tahun silam, agar kita dapat memaknai makna perjuangan yang seharusnya kita terapkan di sekeliling kita. Tentunya ketika Sang Kepala Gerakan turut campur tangan masa kepemimpinan kita sudah pasti terberkati dan sungguh memberkati. Olehnya itu melandasi perjuangan pergerakan kita dapat menyimak ayat firman untuk rekomendasi pelayanan di bawah ini;

“Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” (Yoh. 13:4-5).

Membasuh kaki merupakan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pelayan atau budak. Pada saat menjelang paskah itu tidak ada pelayan di ruangan itu. Pada saat yang sama yang tidak ada satu pun di antara para murid yang berjiwa pelopor untuk berinisiatif melakukan tugas yang dikerjakan oleh pelayan atau budak.

Pertanyaannya, mengapa tidak ada inisiatif dari para murid untuk melakukan pekerjaan para budak ini? “Itu adalah pekerjaan orang-orang kecil dan rendahan”. Bisa saja atau pun mungkin saja begitu pikiran para murid di saat itu.

Tidak banyak berkata-kata, hanya sebuah pesan yang meluncur dari pada-Nya, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh. 13:14-15).

Kalau Yesus Kristus yang pimpin, kepemimpinan kita akan total dan pasti adanya, untuk melayani orang-orang tanpa terkecuali dengan cinta dan kasih yang tulus tanpa pamrih. Jadi apakah perjuangan kita selama ini autentik  atau sudah pada titik yang benar? Semoga. Kita dapat berkarya sebagaimana mestinya yang telah di anjurkan oleh Sang Kepala Gerakan.

Merawat nilai-nilai gerakan

Tentu dalam konteks ini kita sedikit kesulitan untuk tetap menjaga warna gerakan kita yang telah dicetuskan dan kita jalankan selama ini, nilai-nilai pergerakan yang kita bangun sering harus bertabrakan dengan kondisi sekarang yang semakin kekinian artinya semakin berkemajuan sehingga kita lebih dapat memperbaharui pola gerakan secara dinamis agar tidak dapa tergilas oleh ruang dan waktu atau oleh karena situasi kebangsaan dan negara Indonesia yang semakin berubah pola kehidupan. Dibutuhkan lebih ekstra ataupun banyak memiliki referensi serta solusi untuk bagaimana bisa kita dapat memperlihatkan kepada umat tentang arah perjuangan yang kita tempuh dan sampai pada sasaran atau  keinginan yang hendak dicapai bersama.

Orientasi kita sebagai kader saat ini sudah seharusnya tidak selalu mengurus kepentingan secara individu tetapi lebih daripada itu harus mengedepankan kepentingan organisasi, bukan berarti kita tidak mengambil pusing atau tidak menghiraukan kondisi kita secara pribadi Tetapi tugas kita yang paling utama ialah bagaimana kita boleh sadar akan tanggung jawab yang dapat kita amanahkan ditengah-tengah medan juang kita bersama. Meminjam pendapat Rene Descartes “aku berpikir maka aku ada”, atau juga kita secara kelompok punya kesadaran kolektif yang dimana mampu mengutarakan hal demikian bahwasannya kita berpikir maka kita ada, kita dapat berpikir merencanakan gerakan pelayanan kita sehingga benar-benar marwah GMKI itu nyata. Ini menjadi sebuah rekomendasi besar bagi setiap kita yang tetap menjaga dan melestarikan perjuangan di pergerakan rumah biru.

Dalam hal ini juga ketika kita mempunyai jiwa muda dalam artiannya ialah kita bukan saja muda dalam usia saja tetapi kita punya kelebihan tertentu dalam jiwa muda kita “idealisme adalah kemegahan terakhir yang dimilki oleh seorang pemuda” (Tan Malaka). Maka kita seharusnya dan sepatutnya memakai kemegahan atau kemewahan yang kita punya untuk membuat gerakan ini lebih progresif lagi kedepannya. Sudah barang tentu setiap kader memiliki pemikiran yang besar untuk bisa menjewantahkan visi-misi yang menjadi refleksi dan pergumulan bersama, di bangsa dan negara Indonesia yang kita sanjung-sanjungkan. Masing-masing kita memiliki keragaman berpikir dan dapat mengambil keputusan untuk bertindak sesuai dengan apa kita anggap benar dan dapat dipertanggung jawabkan kepada diri kita sendiri dan untuk orang lain yang memilki kepentingan bersama untuk dapat menyatuhkan presepsi dan gerakan yang secara koletif kolegial. Berjuang bersama bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi itu menjadi tuntutan organisasi yang harus kita jalankan bersama untuk mendapatkan hasil serta nilai juang yang telah kita jalankan. Segala yang menjadi persoalan-persoalan bumi Indonesia ini adalah pekerjaan kita sebagai manusia yang memilki akal dan pikiran yang bijaksana untuk memberikan solusi-solusi yang baik dan tepat.

Sebagai kader darah biru (kader GMKI) seharusnya juga punya cara atau metode dalam menjalankan politik diri sendiri untuk organisasi dan kelompok untuk tujuan bersama. Selanjutnya kita harus memilki manajemen yang baik, Seperti halnya apa yang telah disampaikan oleh seorang ahli manajemen yakni. Kathryn. M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan  bahwa: “Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian manajemen adalah sebuah kegiataan yang berkesinambungan”. Sedangkan dari Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa:  “Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya- sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”. Maka hendaknya kita tetap memakai potensi setiap kader yang memilki kelebihan tersendiri untuk kepentingan kita secara kolektif baik untuk kepentingan internal dan eksternal.

Gerakan kita Tuhan yang serta setiap jerih payah kita pasti diperhitungkan. Tetaplah menjadi “Kader yang berakar dengan iman, bertumbuh dengan ilmu, dan berbuah dengan pengabdian” (Jhony Rahmad). Kiranya gerakan kita meneladani seperti halnya Sang Kepala Gerakan

Ut Omnes Unum Sint

Penulis : Reki Tomangoko

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started