Cerita Tentang Awal Sebuah Perjuangan
Berdiri di atas dua paham, yakni nasionalisme dan oikumenisme. Salah satu organisasi kemahasiswaan yang eksis dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Tidak sedikit orang mengatakan bahwa organisasi ini adalah anak kandung Gereja, dimana dalam perjuangan organisasi ini, selalu melibatkan kepentingan-kepentingan Gereja.
Sejarah mencatat bahwa organisasi ini awalnya sebuah komunitas, yang kegiatannya menelaah Alkitab dan berdoa serta membahas tentang isu-isu yang dihadapi Negara pada saat itu. Dengan berlandaskan kepada dua semangat yakni semangat kemerdekaan NKRI dan semangat kemerdekaan Kristus Yesus dengan injil-Nya, maka sudah seharusnya bentuk keberpihakannya kepada mereka yang tertindas dan lemah oleh kebijakan yang tidak populis.
Nama organisasi ini Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia disingkat GMKI. Organisasi ini identik dengan warna biru, sering disebut si “Biru”, pendiri organisasi ini adalah Dr. Johannes Leimena salah satu putera terbaik Maluku dan dikenal orang yang paling jujur, “Ambillah misalnya Leimena, saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indera keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui.” Begitu testimoni Soekarno terhadap Om Jo sapaan akrab Johannes Leimena, dalam buku Bung Karno: Penyambung Lida Rakyat Indonesia (2007) yang ditulis Cindy Adam.
Warna Biru
Melihat uraian singkat diatas, dapat kita simpulkan bahwa organisasi (GMKI) memiliki banyak nilai, nilai terkait kemanusiaan dan sebagainya, yang mesti harus dijaga agar warna biru itu tidak kusam. GMKI adalah sesuatu yang abstrak karena hanya merupakan sebuah nama. Bentuk nyata dari GMKI adalah para anggotanya, karena kehadiran seorang anggota GMKI sudah melambangkan GMKI itu ada secara nyata, maka sudah seharusnya kehadiran anggota mewarnai setiap kehidupan masyarakat dengan nilai-nilai yang dimiliki GMKI.
Dengan berbagai nilai yang dimilki, maka sudah seharusnya nilai-nilai itu dijaga dan terus dipertahankan demi terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih. Pertanyaannya adalah bagaimana mewujudkan tujuan yang bernilai itu? Pertanyaan ini mungkin sudah menjadi pergumulan setiap anggota GMKI, dan jawaban yang sama adalah membina kesadaran anggota terhadap nilai dan tujuan GMKI.
Kondisi Saat Ini
Coba diam sejenak, tarik napas anda yang dalam, dan arahkan imaji anda seluas memandang dunia dan lihatlah organisasi ini. Masihkah kita berada dalam satu garis lurus tentang perjuangan kita? Sudahkah nilai itu terwujud? Ataukah belum? Mengapa belum terwujud? Siapa aktor dibelakang ini yang mengakibatkan kita kehilangan arah?.
Dulu, para pendiri gerakan ini memiliki satu tujuan dan memiliki semangat yang sama untuk mewujudkan tujuan itu. Melihat setiap foto para pendiri, mereka adalah orang-orang yang sederhana walaupun kapasitas mereka adalah Menteri, Dokter, dan sebagainya, tetapi kehidupan mereka sangatlah sederhana, karena mereka mengerti nilai yang dimiliki gerakan ini, kehidupan sederhana ini selalu dipertahankan “tidak sama dengan kehidupan anggota sekarang, mulai dari cabang sampai komisariat yang kehidupan mereka sama seperti elit politik-kaum berduit.” Dan masih banyak lagi persoalan anggota yang tidak paham tentang nilai GMKI yang menjadi pergumulan kita secara bersama.
Pergumulan sekarang ini adalah bagaimana caranya agar setiap nilai yang dimiliki gerakan ini dapat terwujud. Melihat kehidupan anggota sekarang ini yang dalam keseharian mereka seperti kacang lupa kulit, tidak bisa kita heran, dan mengatakan hal itu terjadi karena perubahan zaman tetapi semua itu terjadi karena sebuah proses seperti seorang ibu mengajarkan anaknya berbicara, apa yang ibunya katakan pasti anaknya juga akan mengatakan hal itu. Kalau kondisi anggota sekarang ini seperti yang diuraikan diatas maka jangan salahkan faktor eksternalnya tetapi mari melihat faktor internalnya. Mungkin anggota tersebut mengikuti cara hidup salah satu seniornya, ataupun pembinaan anggotanya masih minim. Hal tersebut yang menyebabkan warna biru dari GMKI menjadi kusam.
Tanggal 9 februari 2021 kita memperingati hari kelahiran GMKI yang ke 71 tahun. Usia yang ke 71 tahun itu tentu bukanlah usia yang muda, Mazmur 71 mungkin menjadi tumpuan kaki kita dimana “Doa meminta perlindungan dimasa tua” memohon lindungan sang kepala gerakan, dan dijawab dengan teologi pengharapan “Lihatlah, Kristus menjadikan semuanya baru” (bdk. Wahyu 21:1-5). Manusia jika bertambah usia dia akan memikirkan resolusi apa yang harus dia lakukan di hari ulang tahunnya. Begitu pula dengan GMKI, bertambah usia, resolusi apa yang kita wujudkan.? Bagaimana menjaga warna GMKI agar tidak kusam?.
Selamat Dies Natalis GMKI yang ke 71 tahun. Kiranya Tuhan Yesus sang kepala gerakan selalu menyertai. Amin.
Penulis : Dagles Kareng