Kehadiran manusia didunia ini merupakan anugerah dan kuasa dari sang pencipta (Tuhan). Manusia merupakan imago dei, artinya diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan (baca, kejadian 1:26-27). Segambar dan serupa dengan Tuhan berarti sudah seharusnya kehadiran manusia dilingkungan sosial harus menggambarkan karakter Tuhan dalam dirinya. Misalnya Tuhan itu pengasih, penyayang, cinta dan lain sebagainya, maka manusia harus hidup sesuai dengan karakter Tuhan itu, artinya saling mengasihi, menyayangi, dan seterusnya. Manusia yang penuh kasih sayang dapat terlihat adanya Tuhan dalam dirinya. Yang menjadi pertanyaannya adalah “kalau manusia menyakiti sesama, melukai sesama, apakah ada Tuhan didalam dirinya? kalau ada, Tuhan itu seperti apa?. Bukankah Dia itu penuh kasih? kalau tidak ada Tuhan dalam dirinya, maka Tuhan itu ada dimana, sehingga manusia berbuat tidak sesuai dengan kehendak Tuhan? Mengapa Tuhan yang memiliki kuasa itu tidak mencegah agar manusia tidak saling menyakiti?.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, baik lingkungan keluarga bahkan masyarakat luas. Tidak sedikit orang yang menyalahkan Tuhan dengan berbagai alasan, yang lebih menarik lagi ada orang yang mempertanyakan Tuhan ada dimana dalam doa-doa mereka, padahal dalam kasus seperti ini sebenarnya Tuhan itu tidak salah dan salah besar jika kita terus-menerus menyalahkan Tuhan.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, dapat kita simak dalam sebuah dialog antara seorang profesor dengan muridnya tentang teodise atau upaya merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan yang telah menyebar luas di dunia maya maupun di dunia nyata. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan “angkuh”.
Alkisah seorang profesor filsafat menantang murid-muridnya,
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
seorang mahasiswa menjawab, “betul, Dia yang menciptakan semuanya.”
Tuhan menciptakan semuanya? tanya Profesor sekali lagi. “ya Prof, semuanya,” kata mahasiswa tersebut. Profesor bertanya lagi, jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan juga? karena kejahatan itu ada, maka menurut ekstrinsik bahwa untuk mencerminkan prinsip isi hati seseorang kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu jahat.
Mendengar hal itu, mahasiswa tersebut diam seribu bahasa, tidak menjawab hipotesis sang profesor tersebut. Sang Profesor dengan bangganya dan dengan sombongnya berkata, bahwa keyakinan agama Kristen adalah sebuah mitos. Sontak ruang kelas menjadi hening, tiba-tiba seorang mahasiswa mengacungkan tangannya, dan berkata.
”Profesor, bolehkah saya bertanya?
Jawab Professor, ya, tentu boleh ?
Mahasiswa itu langsung bertanya, Prof, apakah dingin itu ada?
Kata Profesor, pertanyaan macam apa ini? tentu, dingin itu ada. Tanya mahasiswa tersebut, apakah anda tidak pernah merasa dingin?.
Teman-teman sekelasnya menertawakan pertanyaan teman mereka itu. Tetapi mahasiswa itu menjawab.
Prof, sebenarnya dingin itu tidak ada, menurut hukum fisika, mengapa kita merasa dingin, karena energi panas tidak ada. Lanjut mahasiswa itu bertanya.
Prof, apakah gelap itu ada?
Jawab Profesor dengan nada yang sedikit rendah, ya, tentu ada? Jawab mahasiswa itu, kali ini anda salah lagi Prof, gelap itu tidak ada, gelap ada karena tidak ada terang. Mahasiswa tersebut masih mengajukan pertanyaan lagi, Prof, apakah kejahatan itu ada?.
Kali ini Profesor sedikit ragu untuk menjawab, karena pertanyaan tersebut merupakan pertanyaannya. Kata Profesor, tentu saja, sebagaimana yang telah saya katakan dari awal, setiap hari kita menyaksikan kejahatan, menyaksikan perilaku manusia yang tidak manusiawi, berbagai kekerasan, pembunuhan dan lain sebagainya. Apakah itu bukan kejahatan?.
Tetapi mahasiswa tersebut membantah sang Profesor, kejahatan itu tidak ada Prof, adanya kejahatan karena ketiadaan Tuhan dalam hati manusia. Sama seperti dingin dan gelap, kejahatan itu adalah kosa kata yang diciptakan manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan dalam situasi tersebut, jadi Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Seperti dingin yang bersumber dari ketiadaan energi panas, begitu juga gelap yang bersumber dari ketiadaan cahaya atau terang.
Mendengar hal itu, Profesor lalu duduk dan bertanya, “sebenarnya siapa anda?” Jawab mahasiswa itu, “nama saya, Albert Einstein.” (sumber cerita, sound of Hope). Beberapa argumen dari mahasiswa yang membantah hipotesis sang Profesor, mungkin telah sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan Tuhan. Tuhan memang menciptakan segala sesuatu, Tuhan selalu berjalan bersama kita, cuma kita yang sering meninggalkan Tuhan. Seperti cerita, seorang anak yang hendak digantung mati karena kedapatan mencuri, semua orang dikumpulkan untuk menyaksikan “Pertunjukan” tersebut, tiba-tiba seorang dari para penonton itu bertanya dengan suara nyaring “Di manakah Tuhan? mengapa Dia yang memiliki kuasa tidak mencegahnya? tiba-tiba dari arah belakangnya ada suara yang berkata, “Tuhan turut digantung bersama anak ini!” ini artinya karena tidak ada Tuhan dalam hati manusia menyebabkan kejahatan itu ada.
Beberapa waktu yang lalu terjadi aksi bom bunuh diri didepan Gereja Katedral Makasar (dilansir dari detik,com, 28 Maret 2021). Ini merupakan suatu tragedi bagi kita bersama. Peristiwa ini merupakan suatu peristiwa yang tidak manusiawi, tetapi dilain sisi orang-orang masih saja mempersalahkan Tuhan, dan mempertanyakan dimanakah Tuhan? Pertanyaan seperti itu dapat kita temukan di postingan-postingan media sosial, seperti facebook, Instagram, twiter dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seolah-olah menempatkan Tuhan pada posisi salah atau menganggap Tuhan adalah penyebabnya, seharusnya pertanyaan yang diajukan adalah sudah sejauh mana kita ber Tuhan?. Jika kita telah selesai dengan pertanyaan seperti diatas, maka secara individu maupun kelompok tidak akan mempersalahkan Tuhan lagi. Dari tulisan ini maka muncul suatu pertanyaan refleksi bagi kita bersama, sudahkah kita ber Tuhan dengan benar?.
Penulis : Baster D. Kareng (Kader GMKI Cabang Ternate)
Editor : Jufri Bayar