“Dies Natalis GMKI Cabang Ternate Ke 39 Tahun, Ketua Cabang: Memperkuat Perkaderan dan mempertegas sinergitas GMKI dengan Pemerintah dalam proses pembangunan Kota Ternate”

Perayaan Dies Natalis GMKI Cabang Ternate ke 39 tahun merupakan ekspresi sukacita oleh senior-senior dan seluruh kader GMKI Cabang Ternate. Pada perayaan Dies Natalis kali ini, Badan Pengurus Cabang (BPC) masa bakti 2021-2023 merangkaikan beberapa item kegiatan. Diantaranya Dialog Internal (online) dengan mengusung tema “Napak Tilas Perjuangan GMKI Ternate”.

Narasumber pada Dialog Online tersebut yaitu,  Senior Petter Matahelumual yang adalah Ketua GMKI Cabang Ternate pertama, Senior Dr. Rosita Wondal, M.Pd., M.Th selaku Bendahara Pengurus Cabang Perkumpulan Senior (PCPS) GMKI Ternate masa bakti 2021-2024 dan  Jeplin G. Maitimu, M. Si, yang juga selaku Ketua GMKI Cabang Ternate masa bakti 2017-2019 dan pernah menjabat sebagai Kordinator Wilayah (Korwil) XV GMKI Maluku Utara masa bakti 2019-2020.

Selanjutnya pada H-1 menjelang puncak perayaan Dies Natalis, tepatnya pada tanggal 6 september 2021 pukul 23:59 WIT bertempat di Student Center GMKI Ternate jln, Jambu, Kampung Makassar Timur, BPC, Pengurus Komisariat (PK) dan anggota melaksanakan malam perenungan dan doa bersama.

7 september 2021 pukul 19:30 WIT, bertempat di Gereja GMIH Eben Haezer Ternate, dilaksanakan acara puncak Dies Natalis GMKI Cabang Ternate ke 39 tahun, acara puncak ini diawali dengan kebaktian yang dilayani oleh Wakil Sekretaris MPH Sinode GMIH, senior Pdt. Abram Ugu, S.Ag., M.Si. Dalam keheningan Ia memberikan penguatan-penguatan spiritual kepada semua yang hadir melalui firman Tuhan yang terdapat dalam Kejadian 39:1-23 dengan judul, Yusuf dirumah Potifar.

Turut hadir dalam kesempatan itu, Bapak Dr. M. Tauhid Soleman, M.Si selaku Walikota Ternate, Senior members/friends, Pemuda gereja se-kota Ternate, KNPI Kota Ternate, OKP Cipayung plus, (DPC IMM Kota Ternate, DPC GMNI Kota Ternate dan juga PC PMII Kota Ternate), Pengurus Komisariat dan seluruh kader GMKI Cabang Ternate.

Ketua GMKI Cabang Ternate, Jufri Bayar dalam pidatonya menyampaikan bahwa, usia 39 tahun adalah usia yang sudah cukup matang, baik dari segi berpikir maupun dari segi bertindak. Sebagai organisasi pergerakan, GMKI Cabang Ternate sepanjang perjalanannya senantiasa diwarnai dengan berbagai dinamika sosial politik. Dinamika yang dihadapi oleh GMKI ini tentunya sangat berpengaruh terhadap aktifitas-aktifitas organisasi.

Untuk saat ini BPC masa bakti 2021-2023 akan lebih fokus pada Perkaderan sebagai ruh dari pergerakan ini, ini semua berdasarkan refleksi panjang terhadap gerakan tercinta, oleh karenanya penting sekali kerjasama senior-senior, BPC dan Pengurus Komisariat dalam mengimplementasikan model pengkaderan yang ada di GMKI, ini semua dilakukan agar profil kader  yaitu Spiritualitas, integritas dan profesionalitas benar-benar dapat diraih.

Ia juga menyampaikan bahwa, GMKI Ternate meskipun dengan berbagai keterbatasan, akan terus berupaya untuk menjadikan pemerintah sebagai mitra kritis, GMKI juga senantiasa mengajak teman-teman OKP Cipayung plus untuk tetap menjaga daya kritisnya, agar sebagai pressure group, kita tetap menjaga keseimbangan jalannya roda pemerintahan.

Hal senada juga disampaikan oleh Pdt. Yakobus Tjanu, S.Si., M.Si dalam sambutannya mewakili PCPS GMKI Ternate, Pemerintah kiranya dapat membuka ruang yang seluas-luasnya untuk adik-adik GMKI dalam rangka bersinergi membangun Kota Ternate yang mandiri dan berkarakter keadilan seperti visinya Walikota Ternate.

Walikota Ternate, Bapak Dr. M. Tauhid Soleman, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan bahwa GMKI telah banyak berkontribusi bagi Negara, salah satu contoh ialah Bapak Johanes Leimena selaku pendiri GMKI, ialah yang menggagas konsep Puskesmas dan sang pemilik segudang gagasan-gagasan cemerlang lainnya. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Ternate berharap dan selalu membuka diri untuk berkolaborasi dengan GMKI maupun Umat kristiani di Kota Ternate, tutupnya.

Pakai Protokol Kesehatan secara Ketat, BPC GMKI Ternate melantik Panitia Masa Perkenalan ke 19

Ternate (16/7/2021), Bertempat di Student Center Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ternate, Jln jambu RW 03/RT 006 Kel, Kampung Makassar Timur, Kota Ternate, Badan Pengurus Cabang (BPC) masa bakti 2021-2023 melantik panitia Masa Perkenalan (Maper) ke 19.

Pelantikan panitia Maper ke 19 ini diawali dengan Persekutuan Cabang yang dipimpin oleh saudari Intan Abd Latif, Departemen minat dan bakat komisariat Unkhair I masa bakti 2019-2020.

Dalam Persekutuan Cabang tersebut, mereka yang hadir disirami dengan firman Tuhan yang terdapat didalam Yohanes 3:16 yang berkata: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Yeyen Miranda Lette, sekretaris fungsi Kerohanian BPC masa bakti 2021-2023, selaku pelayan firman dalam persekutuan tersebut, mengajak kepada mereka yang hadir, sebagai kader-kader GMKI kita mestinya berusaha semaksimal mungkin untuk meneladani kasih Kristus, bagaimanapun juga kita harus berlomba-lomba mempraktekan kasih itu dalam kehidupan kita sehari-hari, tutupnya.

Dalam persekutuan cabang dan pelantikan panitia Maper ke 19 tersebut dihadiri oleh BPC, Pengurus Komisariat (PK) se cabang Ternate dan anggota.

Osthan Rumthe selaku ketua panitia diberikan kesempatan oleh Maria Nate, Bendahara Komisariat Kota masa bakti 2021-2022 selaku MC dalam acara tersebut, untuk menyampaikan beberapa hal terkait dengan tugas-tugas kepanitiaan.

Saya tidak dapat melakukan tugas ini seorang diri saja, saya membutuhkan kalian semua sebagai rekan sepelayanan, saya berharap kita dapat bekerja secara kolektif kolegial, oleh karena itu semangat, dorongan serta aksi nyata dari rekan-rekan sekalian dalam kepanitiaan ini menjadi suatu keharusan, ungkapnya.

Senada dengan itu, Jufri Bayar selaku Ketua Cabang dalam arahannya mengatakan, bekerjalah dengan segenap hati, seperti Firman Tuhan yang terdapat didalam Kolose 3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Firman Tuhan ini perlu direnungkan dan dijadikan sebagai instrumen dalam mengiringi setiap langkah juang rekan-rekan sekalian, karena apabila rekan-rekan berpegang teguh pada Firman ini, maka pasti sebesar apapun tugas yang kalian lakukan dan sebesar apapun tantangan yang kalian hadapi, pasti dilalui dengan penuh Damai dan Sukacita.

Ia juga menambahkan bahwa covid 19 masih menjadi tantangan kita bersama,  hampir semua aktifitas sosial kemasyarakatan dibatasi akibat dari status kota Ternate yang saat ini diklasifikasikan masuk dalam zona merah. Oleh karena itu saya mengajak kepada kita semua, agar disamping kita melaksanakan tugas-tugas organisasi, kita juga harus menjadi contoh yang baik bagi masyarakat sekitar dalam rangka memerangi Covid 19, tutupnya.

Sosialisasi Bahaya Narkoba, GMKI Cabang Ternate hadirkan BNN Provinsi Maluku Utara di Soa Tabanga

Soa Tabanga (25/4/2021) – GMKI Cabang Ternate menggelar sosialisasi bahaya narkoba bagi masyarakat. Sosialisasi ini merupakan kegiatan tambahan dari rangkaian Program GMKI Mengabdi yang dicetuskan oleh Bidang Aksi dan Pelayanan BPC GMKI Ternate, masa bakti 2019-2021 dalam sidang pleno II tahun 2020 lalu. Sosialisasi yang dilaksanakan ini adalah hasil kerjasama antara GMKI Cabang Ternate dan BNN Provinsi Maluku Utara.

Ketua GMKI Cabang Ternate, bung Tiwong Peo dalam opening speech menyampaikan bahwa beberapa hari yang lalu GMKI telah berdiskusi banyak dengan beberapa tokoh masyarakat, bahwa selama ini memang belum ada sosialisasi tentang narkoba di Soa Tabanga khususnya, sehingga menjadi sangat penting untuk dimasukkan dalam program GMKI Mengabdi, mengingat secara geografis letak Soa Tabanga tidak jauh dari jantung Kota Ternate yang sedang marak-maraknya terjadi penyebaran Narkoba di kalangan generasi muda. Mengakhiri pembicaraannya, Ia menyampaikan terima kasih kepada BNN Provinsi Maluku Utara yang telah bersedia berkolaborasi dengan GMKI Cabang Ternate, ini adalah bentuk pengabdian terhadap Bangsa dan Negara, tutupnya.

Drs. Hairuddin Umaternate yang merupakan Korbid P2M BNN Provinsi Maluku Utara sebagai narasumber dalam sosialisasi tersebut, Ia menekankan dalam aspek pengenalan terhadap jenis narkoba dan juga upaya-upaya pencegahan terhadap peredaran Narkoba. Diakhir kegiatan Sosialisasi, Ia menyampaikan bahwa Kami dari BNN mengapresiasi setinggi-tingginya kepada teman-teman GMKI Cabang Ternate yang telah menggagas program pengabdian kepada masyarakat melalui Sosialisasi Bahaya dan ancaman Narkoba, sehingga menjadi contoh untuk organisasi-organisasi lainnya untuk menjaga generasi muda dari ancaman narkoba. Hairuddin menawarkan kepada GMKI Cabang Ternate untuk membentuk komunitas Anti Narkoba yang melibatkan pemuda dan remaja, sehingga bisa terus mengedukasi bahaya Narkoba di Soa Tabanga, tutupnya.

Selain itu, Ketua Jemaat GKPMI Imanuel Tabanga, Pdt. Yanis Togolobe, S.Th mengungkapkan, Sebagai pimpinan jemaat dan juga tokoh agama, saya mengapresiasi program GMKI Cabang Ternate melalui Bidang aksi dan pelayanan, dimana telah mendatangkan pihak BNN Provinsi Maluku Utara untuk mengedukasi dan mensosialisasikan kepada masyarakat yang ada di Soa Tabanga. Ini juga telah menolong setiap tokoh-tokoh agama, karena menurut saya ini merupakan bagian dari khotbah. Saya berharap jangan berhenti di hari ini saja, tetapi terus dilakukan secara berkelanjutan untuk sama-sama menjaga generasi muda dari ancaman narkoba, tutupnya.(I’M)

Lurah Sulamadaha buka dengan resmi GMKI Mengabdi dan Launching Rumah Baca GMKI

GMKI Mengabdi merupakan program Bidang Aksi dan Pelayanan (Akspel) Badan Pengurus Cabang (BPC) masa bakti 2019-2021 yang telah diputuskan dalam Sidang Pleno II tahun 2020 lalu.

Pada pembukaan kegiatan GMKI Mengabdi yang dilaksanakan di Gereja kuning GPM Soa Tabanga ini,(19/4/2021) diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Sekretaris Komisariat (Sekom) UMMU masa bakti 2020-2021 saudari Sindi Tamaronggehe dan Pdt. Yanis Togolobe, S.Th sebagai pelayan firman.

Pembukaan kegiatan yang dihadiri oleh lurah kelurahan Sulamadaha, Ketua Majelis Jemaat GPM Soa Tabanga, Ketua Jemaat GKPMI Imanuel Tabanga, BPC serta anggota GMKI Cabang Ternate ini dibuka secara resmi oleh Lurah Sulamadaha.

Ketua GMKI Cabang Ternate, Bung Tiwong Peo dalam sambutannya sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah ikut berkontribusi dalam pelaksanaan GMKI Mengabdi.

“Dalam beberapa hari yang akan datang kami juga telah menyiapkan berbagai rangkaian kegiatan yang akan kami laksanakan dalam beberapa hari kedepan jika tidak berhalangan. Kami memohon doa serta kontribusi dari masyarakat sehingga giat yang kami rencanakan berjalan sesuai dengan rencana”.Pungkasnya.

Ketua Majelis Jemaat GPM Soa Tabanga dalam sambutannya, menegaskan bahwa GMKI adalah Organisasi dinamis yang harus benar-benar pandai dalam membaca situasi, sehingga GMKI tetap menjaga komitmennya dalam Pengabdian kepada masyarakat. Tutupnya.

Senada dengan itu, Lurah Sulamadaha berterima kasih karena GMKI Cabang Ternate telah memilih Soa Tabanga, Kelurahan Sulamadaha sebagai tempat pengabdian, Saya berharap kegiatan ini boleh terlaksana secara maksimal dan efektif, Tutupnya.

Setelah selesai pembukaan kegiatan, seluruh hadirin diarahkan ke Pastori GKPMI Imanuel Tabanga untuk sama-sama Launching Rumah Baca GMKI sekaligus penyerahan Maha Karya kader GMKI Cabang Ternate, “The Spirituality Of Kader GMKI” sebagai panduan dalam Berpendalaman Alkitab (PA) yang ditulis langsung oleh kader-kader GMKI Cabang Ternate, pasca mengikuti PDSPK Level I. Penyerahan Maha Karya dilakukan secara simbolis oleh Ketua GMKI Cabang Ternate, Bung Tiwong Peo dan Sekretaris GMKI Cabang Ternate, Bung Ian Matheis, kepada Ketua Majelis Jemaat GPM Soa Tabanga dan Ketua GKPMI Imanuel Tabanga yang sekaligus pengelola Rumah Baca GMKI. (I’M)

Gereja Dibom, Tuhan di Mana?

Kehadiran manusia didunia ini merupakan anugerah dan kuasa dari sang pencipta (Tuhan). Manusia merupakan imago dei, artinya diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan (baca, kejadian 1:26-27). Segambar dan serupa dengan Tuhan berarti sudah seharusnya kehadiran manusia dilingkungan sosial harus menggambarkan karakter Tuhan dalam dirinya. Misalnya Tuhan itu pengasih, penyayang, cinta dan lain sebagainya, maka manusia harus hidup sesuai dengan karakter Tuhan itu, artinya saling mengasihi, menyayangi, dan seterusnya. Manusia yang penuh kasih sayang dapat terlihat adanya Tuhan dalam dirinya. Yang menjadi pertanyaannya adalah “kalau manusia menyakiti sesama, melukai sesama, apakah ada Tuhan didalam dirinya? kalau ada, Tuhan itu seperti apa?. Bukankah Dia itu penuh kasih? kalau tidak ada Tuhan dalam dirinya, maka Tuhan itu ada dimana, sehingga manusia berbuat tidak sesuai dengan kehendak Tuhan? Mengapa Tuhan yang memiliki kuasa itu tidak mencegah agar manusia tidak saling menyakiti?.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, baik lingkungan keluarga bahkan masyarakat luas. Tidak sedikit orang yang menyalahkan Tuhan dengan berbagai alasan, yang lebih menarik lagi ada orang yang mempertanyakan Tuhan ada dimana dalam doa-doa mereka, padahal dalam kasus seperti ini sebenarnya Tuhan itu tidak salah dan salah besar jika kita terus-menerus menyalahkan Tuhan.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, dapat kita simak dalam sebuah dialog antara seorang profesor dengan muridnya tentang teodise atau upaya merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan yang telah menyebar luas di dunia maya maupun di dunia nyata. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan “angkuh”.

Alkisah seorang profesor filsafat menantang murid-muridnya,

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?

seorang mahasiswa menjawab, “betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

Tuhan menciptakan semuanya? tanya Profesor sekali lagi. “ya Prof, semuanya,” kata mahasiswa tersebut. Profesor bertanya lagi, jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan juga? karena kejahatan itu ada, maka menurut ekstrinsik bahwa untuk mencerminkan prinsip isi hati seseorang kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu jahat.

Mendengar hal itu, mahasiswa tersebut diam seribu bahasa, tidak menjawab hipotesis sang profesor tersebut. Sang Profesor dengan bangganya dan dengan sombongnya berkata, bahwa keyakinan agama Kristen adalah sebuah mitos. Sontak ruang kelas menjadi hening, tiba-tiba seorang mahasiswa mengacungkan tangannya, dan berkata.

”Profesor, bolehkah saya bertanya?

Jawab Professor, ya, tentu boleh ?

Mahasiswa itu langsung bertanya, Prof, apakah dingin itu ada?

Kata Profesor, pertanyaan macam apa ini? tentu, dingin itu ada.  Tanya mahasiswa tersebut, apakah anda tidak pernah merasa dingin?.

Teman-teman sekelasnya menertawakan pertanyaan teman mereka itu. Tetapi mahasiswa itu menjawab.

Prof, sebenarnya dingin itu tidak ada, menurut hukum fisika, mengapa kita merasa dingin, karena energi panas tidak ada. Lanjut mahasiswa itu bertanya.

Prof, apakah gelap itu ada?

Jawab Profesor dengan nada yang sedikit rendah, ya, tentu ada? Jawab mahasiswa itu, kali ini anda salah lagi Prof, gelap itu tidak ada, gelap ada karena tidak ada terang. Mahasiswa tersebut masih mengajukan pertanyaan lagi, Prof, apakah kejahatan itu ada?.

Kali ini Profesor sedikit ragu untuk menjawab, karena pertanyaan tersebut merupakan pertanyaannya. Kata Profesor, tentu saja, sebagaimana yang telah saya katakan dari awal, setiap hari kita menyaksikan kejahatan, menyaksikan perilaku manusia yang tidak manusiawi, berbagai kekerasan, pembunuhan dan lain sebagainya. Apakah itu bukan kejahatan?.

Tetapi mahasiswa tersebut membantah sang Profesor, kejahatan itu tidak ada Prof, adanya kejahatan karena ketiadaan Tuhan dalam hati manusia. Sama seperti dingin dan gelap, kejahatan itu adalah kosa kata yang diciptakan manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan dalam situasi tersebut, jadi Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Seperti dingin yang bersumber dari ketiadaan energi panas, begitu juga gelap yang bersumber dari ketiadaan cahaya atau terang.

Mendengar hal itu, Profesor lalu duduk dan bertanya, “sebenarnya siapa anda?” Jawab mahasiswa itu, “nama saya, Albert Einstein.” (sumber cerita, sound of Hope). Beberapa argumen dari mahasiswa yang membantah hipotesis sang Profesor, mungkin telah sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan Tuhan. Tuhan memang menciptakan segala sesuatu, Tuhan selalu berjalan bersama kita, cuma kita yang sering meninggalkan Tuhan. Seperti cerita, seorang anak yang hendak digantung mati karena kedapatan mencuri, semua orang dikumpulkan untuk menyaksikan “Pertunjukan” tersebut, tiba-tiba seorang dari para penonton itu bertanya dengan suara nyaring “Di manakah Tuhan? mengapa Dia yang memiliki kuasa tidak mencegahnya? tiba-tiba dari arah belakangnya ada suara yang berkata, “Tuhan  turut digantung bersama anak ini!” ini artinya karena tidak ada Tuhan dalam hati manusia menyebabkan kejahatan itu ada.

Beberapa waktu yang lalu terjadi aksi bom bunuh diri didepan Gereja Katedral Makasar (dilansir dari detik,com, 28 Maret 2021). Ini merupakan suatu tragedi bagi kita bersama. Peristiwa ini merupakan suatu peristiwa yang tidak manusiawi, tetapi dilain sisi orang-orang masih saja mempersalahkan Tuhan, dan mempertanyakan dimanakah Tuhan? Pertanyaan seperti itu dapat kita temukan di postingan-postingan media sosial, seperti facebook, Instagram, twiter dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seolah-olah menempatkan Tuhan pada posisi salah atau menganggap Tuhan adalah penyebabnya, seharusnya pertanyaan yang diajukan adalah sudah sejauh mana kita ber Tuhan?. Jika kita telah selesai dengan pertanyaan seperti diatas, maka secara individu maupun kelompok tidak akan mempersalahkan Tuhan lagi. Dari tulisan ini maka muncul suatu pertanyaan refleksi bagi kita bersama, sudahkah kita ber Tuhan dengan benar?.

Penulis : Baster D. Kareng (Kader GMKI Cabang Ternate)

Editor : Jufri Bayar

71 Tahun Perjalanan GMKI

Kediaman Dr. J. Leimena di Jln. Teuku Umar No. 36 Jakarta menjadi saksi bisu momentum lahirnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia di Negara ini, tanggal 9 Februari 1950 menjadi tanggal yang sakral atas kehadiran organisasi kemahasiswaan ini. Berdiri atas dua proklamasi, Proklamasi terhadap kemerdekaan Nasional dan Proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan injil-Nya, yaitu Injil kehidupan, kematian dan kebaktian, itulah yang kemudian menjadi ciri khas GMKI dalam menjaga ritme pergerakannya.

Hari ini, selasa 9 Februari 2021 alarm mengingatkan kembali bahwa GMKI sudah mencapai usia yang ke 71 tahun, seluruh insan yang pernah dibasuh kakinya (kukuhkan) merasakan debaran cinta tersendiri dari dalam dada yang sulit untuk diucapkan. Bukan kader GMKI jikalau pada tanggal 9 Februari, lalu merasakan hal seperti biasa-biasa saja.

71 tahun bukanlah usia yang muda, sepanjang perjalanannya selalu diwarnai oleh berbagai problematika, baik problem yang berasal dari Negara, Gereja dan Masyarakat, kader GMKI yang telah dibekali dengan Iman, Ilmu dan Pengabdian tentu mampuh melewati problem yang dihadapinya meskipun kadang dalam keadaan tertatih.

Kader GMKI yang tersebar diseluruh penjuru Kota di Negeri ini, secara serentak merefleksikan kembali eksistensi GMKI di masing-masing cabang dengan caranya tersendiri, tentunya di tiga medan Pelayanan yaitu Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat. Cabang Ternate misalnya, pada tanggal 8 februari 2021 pukul 23:59 WIT di Student Center GMKI Ternate, Badan Pengurus Cabang Masa Bakti 2019-2021 melaksanakan “Renungan dan Refleksi” atas bertambahnya usia GMKI.

Hadir pada kesempatan ini, koordinator wilayah XV GMKI Maluku Utara PP Masa Bakti 2018-2020, Jeplin G. Maitimu, Ketua Cabang GMKI Ternate Masa Bakti 2019-2021, Tiwong Peo, Bendahara Cabang GMKI Ternate Masa Bakti 2019-2021, Isty Pusung, Kabid PP GMKI Ternate Masa Bakti 2019-2021, Melina Limpong, Kabid Infokom GMKI Ternate Masa Bakti 2019-2021, Jufri Bayar, Sekfung Or GMKI Ternate Masa Bakti 2019-2021, Ramses Kareng, Kekom Unkhair II Masa Bakti 2020-2021, Sandy Tjola, Kekom Unkhair I Masa Bakti 2019-2020, Arit Sonoto, Sekom Unkhair II Masa Bakti 2019-2020, Divinika Pusung, Sekom Unkhair II Masa Bakti 2020-2021, Daniel Batulu, dan Dep, Akspel Komisariat Kota Masa Bakti 2019-2020, Erik Cino.

Refleksi Dari Ketua Cabang, Tiwong Peo

Malam Perenungan dan Refleksi 71 tahun GMKI adalah cerita kita bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus sang kepala gerakan yang selalu menyertai setiap perjalanan panjang GMKI, tentunya dalam perjalanan sebuah organisasi, ada begitu banyak dinamika yang selalu berjalan beriringan. Dalam momentum yang bersejarah ini, tidak hanya sebatas kita bersyukur saja tetapi rasa syukur itu mesti diperjuangkan menentukan keadilan dan terus berjuang untuk perdamaian, sebab gerakan kita Tuhan lah yang serta, pada-Nya kita berbakti maka dari itu kita mesti tetaplah setia dan kesetiaannya itu menegaskan bahwa kita semua harus lebih sungguh-sungguh untuk melayani.

BPC GMKI Ternate Masa Bakti 2019-2021 dalam perjalanannya diakhir Masa Bakti ini ada begitu banyak yang sedang dan yang akan dilakukan. Sebagai komitmen bersama disisa waktu beberapa bulan ini dalam mengakhiri tugas dan tanggungjawab sebagai komitmen bersama menuntaskan yang sedang dan akan dilaksanakan oleh BPC Masa Bakti 2019-2021.

Dengan harapan kepada seluruh civitas GMKI Cabang Ternate untuk terus menopang dan mendoakan kegiatan implementasi PDSPK Level I dan II yang akan dilaksanakan beberapa hari kedepan sebagai bagian dari budaya organisasi kita untuk merawat pengkaderan menjadi orang-orang yang berjiwa pemimpin yang memiliki visi besar dihari depan. Akhirnya Selamat Dies Natalis ke 71 tahun GMKI, Tetaplah menjadi Pusat Sekolah Latihan, UOUS.

Refleksi Dari Koordinator Wilayah XV GMKI Maluku Utara, Jeplin G. Maitimu 

Refleksi dan evaluasi menjadi bagian penting dalam mensyukuri kasih dan penyertaan Tuhan bagi perjalanan panjang organisasi yang biasa disebut sebagai sekolah latihan. Renungan tidak semata-mata dilakukan untuk mengingat setiap tapakan, tapi lebih pada belajar untuk menjadi pembelajar. Penilaian diberikan untuk menegaskan kualitas dan kualifikasi atas eksistensi organisasi. Pendalaman akan dua hal ini memperkuat kita dalam menata tapakan-tapakan berikutnya, memberikan kesempatan bagi kita memperbaharui pola dan pendekatan, menuntun pada kebaharuan yang berakar dan pada waktunya akan memberikan buah yang baik. Ini menjadi penting untuk dimengerti dengan cara yang sederhana sehingga dapat membentuk pemahaman yang menyeluruh, jika falsafah terlalu eksklusif untuk disematkan sebagai keanggunan dari refleksi dan evaluasi. Pemahaman merupakan pijakan untuk berjalan, apalagi ketika perjalanan tersebut melibatkan banyak kepala. Selanjutnya, pemahaman yang komprehensif mendorong pada proses perencanaan yang baik dan implementasi yang terukur yang pada akhirnya menuntun pada sebuah siklus yang teratur dan terbuka untuk diperbaharui sesuai dengan konteks dan tantangan yang ada.

Setelah semua yang hadir telah mencurahkan refleksinya, Malam Renungan dan Refleksi ditutup dengan Doa kepada Tuhan oleh Jeplin G. Maitimu. (JB)

BPC GMKI Ternate Lantik Pengurus Komisariat Unkhair II Masa Bakti 2020-2021

9/2/2021, Di akhir Masa Bakti ini, GMKI Cabang Ternate terus menunjukan komitmennya untuk menyelesaikan agenda-agenda organisasi, terbukti pada tanggal 6/2/2021 Badan Pengurus Cabang Masa Bakti 2019-2021 telah melantik Pengurus Komisariat Unkhair II Masa Bakti 2020-2021 yang diketuai oleh saudara Sandy Tjola, sebelumnya BPC juga telah melantik Pengurus Komisariat UMMU Masa Bakti 2020-2021 pada beberapa hari yang lalu.

Pelantikan yang dilangsungkan di Student Center GMKI Cabang Ternate ini, dihadiri oleh sejumlah Pengurus Komisariat dari beberapa komisariat yang ada di Cabang Ternate, diantaranya Saudara Antonius Kebrob, Ketua Komisariat UMMU Masa Bakti 2020-2021 dan Sekretarisnya, saudari Sindi Tamarunggehe, Saudari Dewi Mendome, Bendahara Komisariat Unkhair I Masa Bakti 2020-2021 dan beberapa anggota GMKI Cabang Ternate.

Pelantikan yang diawali dengan Ibadah singkat ini tampak sejuk ketika Dep, Infokom Unkhair II Masa Bakti 2019-2020, Julyan Tukang menyodorkan firman Tuhan yang terdapat dalam Lukas 19:17, Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Firman Tuhan ini mengisyaratkan kepada kita semua, terkhususnya kepada Pengurus Komisariat yang akan dilantik, bahwa kesetiaan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menerimah dan menjalankan tanggungjawab yang diberikan kepada kita, oleh karena itu, melalui firman Tuhan pada saat ini, kita boleh belajar setia pada perkara-perkara yang kecil, karena kita tahu bahwa ketika kita telah setia pada perkara-perkara kecil, maka yakin dan percaya kita akan tetap setiap ketika kita diberi tanggungjawab yang lebih besar, tutupnya.

Setelah ibadah selesai, kegiatanpun dilanjutkan dengan acara pelantikan yang diawali dengan Upacara Nasional dan Upacara Organisasi. Sandi Tjola selaku Ketua Komisariat terpilih dalam Pidatonya, menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota GMKI Cabang Ternate Komisariat Unkhair II yang telah mempercayakannya untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan ini, suatu kesempatan emas bagi saya dan Daniel Batulu selaku Sekretaris Komisariat serta teman-teman yang masuk dalam struktur kepengurusan Masa Bakti 2020-2021 ini, kami memberi diri untuk menjalankan tugas dan pelayanan ini dan teman-teman anggota akan menjadi pelengkap dalam mengawal proses ini, imbuhnya.

Senada dengan itu Ketua Komisariat Unkhair II Masa Bakti 2019-2020 saudara Chrisvanus Th Lahu dalam sambutannya membeberkan bahwa masih ada sejumlah Pekerjaan Rumah yang perlu untuk diselesaikan, untuk menyelesaikannya tentu harus mengedepankan kerjasama yang baik dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas-tugas dan pelayanan, agar Komisariat sebagai perpanjangan tangan BPC dapat menjawab problem-problem ditingkat Komisariat. Ia juga menambahkan bahwa, Pengurus kali ini harus mampuh melakukan Reformasi Struktural, Dialektis dan Intensif sebagai langkah yang tepat. Tutupnya.

Pjs Ketua Cabang Jufri Bayar yang juga sebagai Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi BPC Masa Bakti 2019-2021 dalam sambutannya, menyampaikan terima kasih kepada Pengurus Komisariat Unkhair II Masa Bakti 2019-2020 yang telah meyelesaikan tugas-tugas organisasi dan yang telah menjaga ritme pergerakan dengan baik, semoga Yesus Kristus sang kepala gerakan senantiasa menyertai proses-proses selanjutnya, Ia juga memberikan pesan-pesan kepada Pengurus yang baru saja dilantik agar tetap setia dan sabar, sikap ini harus dimiliki oleh semua Pengurus demi efektifitas implementasi tanggungjawab.

Ia juga menyampaikan bahwa kolaborasi Ide dan Gagasan sangatlah penting untuk melahirkan kreatifitas kader ditingkat komisariat serta memperbanyak pelatihan-pelatihan sebagaimana namanya GMKI sebagai “Sekolah Latihan”. Tutupnya. (JB)

Warna Kusam Ruma Biru (Oleh : Dep, Akspel Komisariat Unkhair II M.B 2019-2020)

Cerita Tentang Awal Sebuah Perjuangan

Berdiri di atas dua paham, yakni nasionalisme dan oikumenisme. Salah satu organisasi kemahasiswaan yang eksis dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Tidak sedikit orang mengatakan bahwa organisasi ini adalah anak kandung Gereja, dimana dalam perjuangan organisasi ini, selalu melibatkan kepentingan-kepentingan Gereja.

Sejarah mencatat bahwa organisasi ini awalnya sebuah komunitas, yang kegiatannya menelaah Alkitab dan berdoa serta membahas tentang isu-isu yang dihadapi Negara pada saat itu. Dengan berlandaskan kepada dua semangat yakni semangat kemerdekaan NKRI dan semangat kemerdekaan Kristus Yesus dengan injil-Nya, maka sudah seharusnya bentuk keberpihakannya kepada mereka yang tertindas dan lemah oleh kebijakan yang tidak populis.

Nama organisasi ini Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia disingkat GMKI. Organisasi ini identik dengan warna biru, sering disebut si “Biru”, pendiri organisasi ini adalah Dr. Johannes Leimena salah satu putera terbaik Maluku dan dikenal orang yang paling jujur, “Ambillah misalnya Leimena, saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indera keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui.” Begitu testimoni Soekarno terhadap Om Jo sapaan akrab Johannes Leimena, dalam buku Bung Karno: Penyambung Lida Rakyat Indonesia (2007) yang ditulis Cindy Adam.

Warna Biru

Melihat uraian singkat diatas, dapat kita simpulkan bahwa organisasi (GMKI) memiliki banyak nilai, nilai terkait kemanusiaan dan sebagainya, yang mesti harus dijaga agar warna biru itu tidak kusam. GMKI adalah sesuatu yang abstrak karena hanya merupakan sebuah nama. Bentuk nyata dari GMKI adalah para anggotanya, karena kehadiran seorang anggota GMKI sudah melambangkan GMKI itu ada secara nyata, maka sudah seharusnya kehadiran anggota mewarnai setiap kehidupan masyarakat dengan nilai-nilai yang dimiliki GMKI.

Dengan berbagai nilai yang dimilki, maka sudah seharusnya nilai-nilai itu dijaga dan terus dipertahankan demi terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih. Pertanyaannya adalah bagaimana mewujudkan tujuan yang bernilai itu? Pertanyaan ini mungkin sudah menjadi pergumulan setiap anggota GMKI, dan jawaban yang sama adalah membina kesadaran anggota terhadap nilai dan tujuan GMKI.

Kondisi Saat Ini

Coba diam sejenak, tarik napas anda yang dalam, dan arahkan imaji anda seluas memandang dunia dan lihatlah organisasi ini. Masihkah kita berada dalam satu garis lurus tentang perjuangan kita? Sudahkah nilai itu terwujud? Ataukah belum? Mengapa belum terwujud? Siapa aktor dibelakang ini yang mengakibatkan kita kehilangan arah?.

Dulu, para pendiri gerakan ini memiliki satu tujuan dan memiliki semangat yang sama untuk mewujudkan tujuan itu. Melihat setiap foto para pendiri, mereka adalah orang-orang yang sederhana walaupun kapasitas mereka adalah Menteri, Dokter, dan sebagainya, tetapi kehidupan mereka sangatlah sederhana, karena mereka mengerti nilai yang dimiliki gerakan ini, kehidupan sederhana ini selalu dipertahankan “tidak sama dengan kehidupan anggota sekarang, mulai dari cabang sampai komisariat yang kehidupan mereka sama seperti elit politik-kaum berduit.” Dan masih banyak lagi persoalan anggota yang tidak paham tentang nilai GMKI yang menjadi pergumulan kita secara bersama.

Pergumulan sekarang ini adalah bagaimana caranya agar setiap nilai yang dimiliki gerakan ini dapat terwujud. Melihat kehidupan anggota sekarang ini yang dalam keseharian mereka seperti kacang lupa kulit, tidak bisa kita heran, dan mengatakan hal itu terjadi karena perubahan zaman tetapi semua itu terjadi karena sebuah proses seperti seorang ibu mengajarkan anaknya berbicara, apa yang ibunya katakan pasti anaknya juga akan mengatakan hal itu. Kalau kondisi anggota sekarang ini seperti yang diuraikan diatas maka jangan salahkan faktor eksternalnya tetapi mari melihat faktor internalnya. Mungkin anggota tersebut mengikuti cara hidup salah satu seniornya, ataupun pembinaan anggotanya masih minim. Hal tersebut yang menyebabkan warna biru dari GMKI menjadi kusam.

Tanggal 9 februari 2021 kita memperingati hari kelahiran GMKI yang ke 71 tahun. Usia yang ke 71 tahun itu tentu bukanlah usia yang muda, Mazmur 71 mungkin menjadi tumpuan kaki kita dimana “Doa meminta perlindungan dimasa tua” memohon lindungan sang kepala gerakan, dan dijawab dengan teologi pengharapan “Lihatlah, Kristus menjadikan semuanya baru” (bdk. Wahyu 21:1-5). Manusia jika bertambah usia dia akan memikirkan resolusi apa yang harus dia lakukan di hari ulang tahunnya. Begitu pula dengan GMKI, bertambah usia, resolusi apa yang kita wujudkan.? Bagaimana menjaga warna GMKI agar tidak kusam?.

Selamat Dies Natalis GMKI yang ke 71 tahun. Kiranya Tuhan Yesus sang kepala gerakan selalu menyertai. Amin.

Penulis : Dagles Kareng

GMKI : Gerakan Pelayanan (Oleh : Ketua Komisariat UMMU M.B 2019-2020)

“GMKI bukanlah sebuah organisasi yang hanya milik suatu kelompok, suku dan etnis. Tetapi GMKI adalah milik kita bersama yang mau bertanggung jawab untuk Bangsa dan Negara Indonesia”.

Dunia gerakan sudah bisa kita katakan tua usianya, dalilnya ialah karena adanya pembangunan gerakan-gerakan yang besar di dunia secara luas dan kerucutnya di Indonesia sendiri mampu bergerak dalam berbagai dialektika gerakan yang dibangun termasuk GMKI sendiri, namun mahkluk yang membuat gerakan itu sendiri belumlah bisa kita katakan tua atau bersifat dewasa dalam mengambil sikap dan tindakan nyata untuk kepentingan kita dengan Tuhan bahkan kita dengan sesama yang ada di cakrawala ini.

GMKI ialah organisasi pengkaderan, namun juga sebagai organisasi pelayanan. Yang dalam hal ini setiap kader seharusnya memilki kemampuan ataupun mempunyai nalar kritis sehingga dapat memaknai dan bertanggung jawab atas slogan ataupun kalimat yang sakral itu, yang menjadi bagian dari pada representasi nyata gerakan ini. Yang dapat direfleksikan terus menerus yang dalam situasi dan kondisi apapun hingga mampu mendapatkan dan menduduki posisi puncak sebuah gerakan yang revolusioner dan visioner. 

Sejatinya menjadi seorang kader yang bermutu tinggi dan besar, tidaklah menjadi sebuah tugas yang gampang ataupun mudah. Tetapi sulit ketika kita hanya mengandalkan  kemampuan, kekuatan yang kita kehendaki, secara personal yang hanya mengedepankan kekuatan manusia secara menyeluruh tanpa sedikit pun tidak mengikutsertakan Yesus Kristus sebagai pribadi yang empunya segalanya. Maka, kita juga tidak akan mendapatkan sebuah perjuangan pergerakan yang dituntun oleh pribadi yang Maha Esa, tetapi biarlah sebuah arah gerakan pelayanan kita tetap ada dalam tangan  Yesus Kristus sang kepala gerakan dan juga kepala atas segala yang ada yakni bumi dan seisinya.

Belajar pada pelayanan Yesus

Mari kita sama-sama belajar pada politik Yesus pada beberapa ribu tahun silam, agar kita dapat memaknai makna perjuangan yang seharusnya kita terapkan di sekeliling kita. Tentunya ketika Sang Kepala Gerakan turut campur tangan masa kepemimpinan kita sudah pasti terberkati dan sungguh memberkati. Olehnya itu melandasi perjuangan pergerakan kita dapat menyimak ayat firman untuk rekomendasi pelayanan di bawah ini;

“Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” (Yoh. 13:4-5).

Membasuh kaki merupakan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pelayan atau budak. Pada saat menjelang paskah itu tidak ada pelayan di ruangan itu. Pada saat yang sama yang tidak ada satu pun di antara para murid yang berjiwa pelopor untuk berinisiatif melakukan tugas yang dikerjakan oleh pelayan atau budak.

Pertanyaannya, mengapa tidak ada inisiatif dari para murid untuk melakukan pekerjaan para budak ini? “Itu adalah pekerjaan orang-orang kecil dan rendahan”. Bisa saja atau pun mungkin saja begitu pikiran para murid di saat itu.

Tidak banyak berkata-kata, hanya sebuah pesan yang meluncur dari pada-Nya, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh. 13:14-15).

Kalau Yesus Kristus yang pimpin, kepemimpinan kita akan total dan pasti adanya, untuk melayani orang-orang tanpa terkecuali dengan cinta dan kasih yang tulus tanpa pamrih. Jadi apakah perjuangan kita selama ini autentik  atau sudah pada titik yang benar? Semoga. Kita dapat berkarya sebagaimana mestinya yang telah di anjurkan oleh Sang Kepala Gerakan.

Merawat nilai-nilai gerakan

Tentu dalam konteks ini kita sedikit kesulitan untuk tetap menjaga warna gerakan kita yang telah dicetuskan dan kita jalankan selama ini, nilai-nilai pergerakan yang kita bangun sering harus bertabrakan dengan kondisi sekarang yang semakin kekinian artinya semakin berkemajuan sehingga kita lebih dapat memperbaharui pola gerakan secara dinamis agar tidak dapa tergilas oleh ruang dan waktu atau oleh karena situasi kebangsaan dan negara Indonesia yang semakin berubah pola kehidupan. Dibutuhkan lebih ekstra ataupun banyak memiliki referensi serta solusi untuk bagaimana bisa kita dapat memperlihatkan kepada umat tentang arah perjuangan yang kita tempuh dan sampai pada sasaran atau  keinginan yang hendak dicapai bersama.

Orientasi kita sebagai kader saat ini sudah seharusnya tidak selalu mengurus kepentingan secara individu tetapi lebih daripada itu harus mengedepankan kepentingan organisasi, bukan berarti kita tidak mengambil pusing atau tidak menghiraukan kondisi kita secara pribadi Tetapi tugas kita yang paling utama ialah bagaimana kita boleh sadar akan tanggung jawab yang dapat kita amanahkan ditengah-tengah medan juang kita bersama. Meminjam pendapat Rene Descartes “aku berpikir maka aku ada”, atau juga kita secara kelompok punya kesadaran kolektif yang dimana mampu mengutarakan hal demikian bahwasannya kita berpikir maka kita ada, kita dapat berpikir merencanakan gerakan pelayanan kita sehingga benar-benar marwah GMKI itu nyata. Ini menjadi sebuah rekomendasi besar bagi setiap kita yang tetap menjaga dan melestarikan perjuangan di pergerakan rumah biru.

Dalam hal ini juga ketika kita mempunyai jiwa muda dalam artiannya ialah kita bukan saja muda dalam usia saja tetapi kita punya kelebihan tertentu dalam jiwa muda kita “idealisme adalah kemegahan terakhir yang dimilki oleh seorang pemuda” (Tan Malaka). Maka kita seharusnya dan sepatutnya memakai kemegahan atau kemewahan yang kita punya untuk membuat gerakan ini lebih progresif lagi kedepannya. Sudah barang tentu setiap kader memiliki pemikiran yang besar untuk bisa menjewantahkan visi-misi yang menjadi refleksi dan pergumulan bersama, di bangsa dan negara Indonesia yang kita sanjung-sanjungkan. Masing-masing kita memiliki keragaman berpikir dan dapat mengambil keputusan untuk bertindak sesuai dengan apa kita anggap benar dan dapat dipertanggung jawabkan kepada diri kita sendiri dan untuk orang lain yang memilki kepentingan bersama untuk dapat menyatuhkan presepsi dan gerakan yang secara koletif kolegial. Berjuang bersama bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi itu menjadi tuntutan organisasi yang harus kita jalankan bersama untuk mendapatkan hasil serta nilai juang yang telah kita jalankan. Segala yang menjadi persoalan-persoalan bumi Indonesia ini adalah pekerjaan kita sebagai manusia yang memilki akal dan pikiran yang bijaksana untuk memberikan solusi-solusi yang baik dan tepat.

Sebagai kader darah biru (kader GMKI) seharusnya juga punya cara atau metode dalam menjalankan politik diri sendiri untuk organisasi dan kelompok untuk tujuan bersama. Selanjutnya kita harus memilki manajemen yang baik, Seperti halnya apa yang telah disampaikan oleh seorang ahli manajemen yakni. Kathryn. M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan  bahwa: “Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian manajemen adalah sebuah kegiataan yang berkesinambungan”. Sedangkan dari Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa:  “Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya- sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”. Maka hendaknya kita tetap memakai potensi setiap kader yang memilki kelebihan tersendiri untuk kepentingan kita secara kolektif baik untuk kepentingan internal dan eksternal.

Gerakan kita Tuhan yang serta setiap jerih payah kita pasti diperhitungkan. Tetaplah menjadi “Kader yang berakar dengan iman, bertumbuh dengan ilmu, dan berbuah dengan pengabdian” (Jhony Rahmad). Kiranya gerakan kita meneladani seperti halnya Sang Kepala Gerakan

Ut Omnes Unum Sint

Penulis : Reki Tomangoko

Pengurus Komisariat UMMU GMKI Cabang Ternate masa bakti 2020-2021 resmi dilantik Badan Pengurus Cabang

Ternate, 22/01/2021 Bertempat di Student Center GMKI Cabang Ternate, Pengurus Komisariat UMMU GMKI Cabang Ternate masa bakti 2020-2021 dilantik Badan Pengurus Cabang. Ini merupakan agenda wajib yang dijalankan oleh setiap kepengurusan yang ada di GMKI Cabang Ternate untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan sebagai sekolah latihan.

Pengurus Komisariat UMMU GMKI Cabang Ternate masa bakti 2020-2021 di pimpin oleh Antonius Kebrob sebagai Ketua Komisariat dan Sindi M. Tamaronggehe sebagai Sekretaris Komisariat yang terpilih di musyawarah VI Komisariat UMMU pada 28 november 2020. Saat pidato pertamanya, Ketua Komisariat UMMU masa bakti 2020-2021 menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan untuk memimpin komisariat UMMU. Menurutnya ini merupakan satu kebanggaan namun yang terpenting biarlah dimasa kepengurusan ini, kita bisa memberikan yang terbaik untuk GMKI. GMKI merupakan sekolah latihan yang artinya kita hadir dialam biru GMKI untuk berlatih dan berproses agar menjadi orang yang bertanggung jawab dikemudian hari dan dapat membawa shalom Allah ditengah Bangsa yang kita cintai ini, biarlah setiap gerakan kita selalu berdiri diatas semangat UT OMNES UNUM SINT dan tetap mengandalkan Yesus Kristus selaku sang kepala gerakan kita dan di kesempatan ini Ia mengharapkan bahwa koordinasi dan komunikasi itulah yang sangat penting yang harus kita jaga sebagai penyeimbang dalam setiap pengambilan keputusan dan pergerakan pada komisariat UMMU untuk mewujudnyatakan Visi dan Misi GMKI disetiap medan gumul dan itu kita mulai dari Komisariat UMMU dengan tetap menjaga eksistensi pergerakan kita khususnya di GMKI Cabang Ternate, Tutupnya.

Sebelumnya Komisariat UMMU GMKI Cabang Ternate masa bakti 2019-2020 di ketuai oleh Reky Tomangoko. Dalam sambutannya, Ia menyampaikan bahwa untuk pengurus yang baru dilantik, kita semua memiliki tantangan dan pergumulan dalam ber GMKI Komisariat UMMU ditiga medan pelayanan yakni, Perguruan Tinggi, Masyarakat dan Gereja.

Dalam medan layan Perguruan Tinggi, sebagai kader GMKI, kita harus bergening kualitas akademik sehingga kita dapat menyeimbangi Tinggi Ilmu kita dengan aktifitas organisasi. Dalam medan layan masyarakat tentunya kita juga punya tanggungjawab karena kita ini terlahir dari rahim rakyat dan kita adalah rakyat, oleh sebab segala yang menyangkut dengan persoalan masyarakat kita tetap turut andil dan mengambil bagian yang tersedia sehingga nampak ciri tinggi pengabdian kita sebagai kader. Dalam medan layan Gereja, tentunya dalam ber Gereja pun kita sebagai kader GMKI memiliki tanggungjawab yang besar sehingga apapun konsekuensinya ketika Gereja memanggil kita harus hadir, pungkasnya.

Sambutan Badan Pengurus Cabang diwakili oleh Ketua Bidang Pendidikan Kader dan Kerohanian bung Azaria Tuka, Ia menyampaikan selamat kepada Pengurus yang telah dilantik, kalian memiliki tanggungjawab dan tugas lebih dibanding teman anggota lainnya.

Tugas utama teman Pengurus yang harus dikerjakan adalah melakukan konsolidasi organisasi sehingga seluruh anggota komisariat dapat diikut sertakan dalam agenda-agenda komisariat maupun di cabang, ingat bahwa gerakan ini Tuhan yang serta, jadi segala yang kita kerjakan hari ini pasti dapat terselesaikan dengan tuntunan Sang Kepala Gerakan.

Pengurus Komisariat dalam menjalankan roda organisasi kedepan sudah tentu tidak mudah, akan banyak tantangan yang teman-teman pengurus hadapi, terutama melaksanakan agenda dikomisariat dengan memperhatikan protokol kesehatan dimasa pandemi covid-19 ini, olehnya itu kami atas nama Badan Pengurus Cabang mengingatkan agar pengurus terlebih dahulu membangun relasi dan komunikasi yang baik sesama pengurus dan juga anggota, sehingga mampu merancang strategi konsolidasi organisasi yang baik kedepannya sehingga gerakan-gerakan yang dikerjakan dapat berdampak untuk pengembangan kualitas kader di komisariat UMMU, Tutupnya. (I’M)

Design a site like this with WordPress.com
Get started